Tampilkan postingan dengan label Amar ma'ruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amar ma'ruf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2010

0 Mengenal Hikmah Dari Satu Kejadian

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ya Allah jadikanlah setiap langkah apapun yang kami tempuh agar selalu menuju ridho-MU dan jadikanlah kami orang yang pandai melihat karunia-MU agar kami pandai bersyukur atas apa-apa yang telah Engkau berikan, amin

Allah menjanjikan pertolongan dalam kesulitan, menjanjikan dekat dengan orang sabar, dan menjanjikan kebaikan dibalik setiap kesulitan hidup,

artinya kita harus siap menghadapi dinamika hidup yang akan terjadi, yang kadang terasa manis dan terkadang terasa pahit,

akan terasa berat hidup ini jikalau kita hanya terfokus pada kejadian, dan keinginan kita saja, tapi akan terasa ringan dan lebar hati ini jikalau kita bisa merenungi hikmah dibalik suatu kejadian

kalau kita berdagang dan mengalami kerugian, mungkin secara materi kita kehilangan banyak uang dan hati ini akan merasa sakit, tapi kalau sudah terungkap hikmah di balik kejadian tersebut tak jarang kita malah akan bersyukur, karena mungkin uang inilah yang akan membuat kita tergelincir dalam hidup

ketika akan bepergian dan tidak jadi karena bis yang akan ditumpanginya telah berangkat, mungkin pada saat itu kita akan ngedumel dan marah, tetapi akan mengucapkan syukur ketika terungkap hikmah dari kejadian tersebut, karena ternyata bis yang akan kita tumpangi tadi mendapat kecelakaan

banyak sekali kejadian yang awalnya kita merasa marah dan menyesal, tetapi setelah kita tahu hikmah dibalik suatu kejadian, justru kita malah bersyukur,

seakan ada dinding tebal yang menghalangi kita dari megenal hikmah dari suatu kejadian

sahabat, bagaimana mungkin kita mampu bersabar dan mampu mengenal hikmah dari satu kejadian dalam episode hidup ini, jikalau kita tidak punya keyakinan kuat terhadap Allah,

apalagi relung hati kita masih diisi dengan indahnya pernak pernik dunia ini, karena biasanya hati yang yang seperti ini akan sulit menembus dinding hikmah dibalik suatu kejadian,

disebabkan penilainnya hanya selalu berdasarkan penilaian dunia semata,

berbeda dengan hati yang menganggap kesuksesan dan keuntungan hidup itu tidak hanya dipandang dari sisi dunia saja, tapi lebih luas lagi yaitu mencari nilai dan ridho disisi Allah

biasanya orang seperti itu akan lebih mampu mengendalikan dirinya ketika kesulitan hidup melanda, karena apapun kejadian yang menimpa dirinya yakin bahwa semua itu tidak akan pernah sia-sia, karena hakekatnya Allah jugalah yang telah menciptkan kejadian tersebut, insya Allah

sahabat, semoga kita semua dapat belajar dari setiap kejadian yang menimpa diri kita atau permasalahan hidup yang sedang kita alami menjadi jalan agar mampu melatih hati ini agar bisa menembus dinidng hikmah dibalik suatu kejadian dan bisa mengenal Allah lebih dekat lagi, amin

semoga bermanfaat

Sabtu, 06 Februari 2010

0 JANGAN MENGHINA TUHAN ORANG LAIN & BENCI DENGAN MEREKA

As.saudaraku yang seiman realita yang ada pada umat islam sekarang sering sekali ketika datang hari2 besar agama lain kita selalu menghina sembahan mereka, padahal Allah melarang kita menghina sembahan orang lain allah berfirman:

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
QS. al-An'am (6) : 108

Saudaraku dari ayat di atas dapat kita simpulkan jadi wajar kalau islam sering diusik oleh orang lain, itu terjadi karna ulah umat islam itu sediri.

Saudarku Kenapa Umat islam Menghina Tuhan orang lain??
~karna umat islam merasa dirinya paling suci,padahal allah melarangkita menganggap diri kita paling suci allah berfirman:

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
QS. an-Najm (53) : 32

Dari ayat di atas jelas bahwa allah tidak pernah mengajurkan kita untuk meremehkan orang lain atau pun orang yang berbeda keyakinan dengan kita.

~Karna umat islam tidak siap menerima perbedaan, sebagai mana firman allah:

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat,
QS. adz-Dzariyat (51) : 8

Saudaraku yakinlah tidak ada sesuatu yang di dunia ini sama, bayangkan kalau di dunia ini orangnya kaya semua??? maka itulah allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang2an atau berbeda2 ada siang ada malam bahkan syari'at dan kiblat pun kita berbeda sebagaiman firman allah:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. al-Baqarah (2) : 148

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
QS. al-Hajj (22) : 67

Saudaraku yuk kita hilangkan penyakit dengki pada diri kita yang membuat hati kita menjadi kotor sehingga kita merasa paling suci, sombong,buruk sangka dengan orang lain apa lagi dengan orang yang beda agama dengan kita merekan berbuat baik(membantu orang lain) saja kita selalu menganggap mereka ada misi pemurtadan sedangkan kita umat islam tidak pernah mau memberi atau membantu orang islam apalagi dengan orang berbeda agamanya dengan kita padahal nabi kita diperintahkan oleh allah membantu orang yang musyrik yang mintak pertolongan dengannya agar ia dapat mendengar ayat2 allah karna sebenarnya mereka itu orang yang tidak mengetahui sebagaimana firman allah:

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
QS. at-Taubah (9) : 6

___________________________________________________________
Saudaraku jadikan ini sebagai evaluasi kita Semoga bermanfaat...........!!!!!!

0 Mitos Valentine Day

14 Februari, adalah tanggal yang telah lekat dengan kehidupan muda-mudi kita. Hari yang lazim disebut Valentine Day ini, konon adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada “pasangan”-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, permen, mawar, dan lainnya. Seakan tak terkecuali, remaja Islam pun turut larut dalam ritus tahunan ini, meski tak pernah tahu bagaimana akar sejarah perayaan ini bermula.

Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta’ala telah memilih Islam sebagai agama bagi kita, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Allah Subahanahu wa Ta’ala juga menyatakan bahwa Dia tidak menerima dari seorang pun agama selain Islam. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”

Semua agama yang ada di masa ini selain Islam adalah agama yang batil. Tidak bisa menjadi (jalan) pendekatan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Bahkan bagi seorang hamba, agama-agama itu tidaklah menambah kecuali kejauhan dari-Nya, sesuai dengan kesesatan yang ada padanya.

Telah lama, tersebar suatu fenomena –yang menyedihkan– di kalangan banyak pemuda-pemudi Islam. Fenomena ini merupakan bentuk nyata sikap taqlid (membebek) terhadap kaum Nasrani, yaitu Hari Kasih Sayang (Valentine Day). Berikut ini secara ringkas akan dipaparkan asal-muasal perayaan tersebut, perkembangannya, tujuan serta bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapinya.

Asal Muasal

Perayaan ini termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan ini merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan ini memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus –pendiri kota Roma– disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Apa Hubungan St. Valentine dengan Perayaan Ini?

Versi I: Disebutkan bahwa St. Valentine adalah seorang yang mati di Roma ketika disiksa oleh Kaisar Claudius sekitar tahun 296 M. Di tempat terbunuhnya di Roma, dibangun sebuah gereja pada tahun 350 M untuk mengenangnya.

Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap memperingati Hari Kasih Sayang. Hanya saja mereka mengubahnya dari makna kecintaan kepada sesembahan mereka, kepada pemahaman lain yang mereka istilahkan sebagai martir kasih sayang, yakni St. Valentine, sang penyeru kasih sayang dan perdamaian, yang –menurut mereka– mati syahid pada jalan itu.

Di antara aqidah batil mereka pada hari tersebut, dituliskan nama-nama pemudi yang memasuki usia nikah pada selembar kertas kecil, lalu diletakkan pada talam di atas lemari buku. Lalu diundanglah para pemuda yang ingin menikah untuk mengambil salah satu kertas itu. Kemudian sang pemuda akan menemani si wanita pemilik nama yang tertulis di kertas (yang diambilnya) selama setahun. Keduanya saling menguji perilaku masing-masing, baru kemudian mereka menikah. Bila tidak cocok, mereka mengulangi hal yang serupa tahun mendatang.

Para pemuka agama Nasrani menentang sikap membebek ini, dan menganggapnya sebagai perusak akhlak para pemuda dan pemudi. Maka perayaan ini pun dilarang di Italia. Dan tidak diketahui kapan perayaan ini dihidupkan kembali.

Versi II: Bangsa Romawi di masa paganis dahulu merayakan sebuah hari raya yang disebut hari raya Lupercalia1. Ini adalah hari raya yang sama seperti pada kisah versi I di atas. Pada hari itu, mereka mempersembahkan qurban bagi sesembahan mereka selain Allah Subahanahu wa Ta’ala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu mampu menjaga mereka dari keburukan dan menjaga binatang gembalaan mereka dari serigala.

Ketika bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, dan Kaisar Claudius II berkuasa pada abad ketiga, dia melarang tentaranya menikah. Karena menikah akan menyibukkan mereka dari peperangan yang mereka jalani. Maka St. Valentine menentang peraturan ini, dan dia menikahkan tentara secara diam-diam. Kaisar lalu mengetahuinya dan memenjarakannya, sebelum kemudian dia dihukum mati.

Versi III: Kaisar Claudius II adalah penyembah berhala, sedangkan Valentine adalah penyeru agama Nasrani. Sang Kaisar berusaha mengeluarkannya dari agama Nasrani dan mengembalikannya kepada agama paganis Romawi. Namun Valentine tetap teguh memeluk agama Nasrani, dan dia dibunuh karenanya pada 14 Februari 270 M, malam hari raya paganis Romawi: Lupercalia.

Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap melakukan perayaan paganis Lupercalia, hanya saja mereka mengaitkannya dengan hari terbunuhnya Valentine untuk mengenangnya.

Syi’ar Perayaan Hari Kasih Sayang

1. Menampakkan kegembiraan dan kesenangan.

2. Saling memberi mawar merah, sebagai ungkapan cinta, yang dalam budaya Romawi paganis merupakan bentuk cinta kepada sesembahan kepada selain Allah Subahanahu wa Ta’ala.

3. Menyebarkan kartu ucapan selamat hari raya tersebut. Pada sebagiannya terdapat gambar Cupid, seorang anak kecil dengan dua sayap membawa busur dan panah. Cupid adalah dewa cinta erotis dalam mitologi Romawi paganis. Maha Tinggi Allah dari kedustaan dan kesyirikan mereka dengan ketinggian yang besar.

4. Saling memberi ucapan kasih sayang, rindu, dan cinta dalam kartu ucapan yang saling mereka kirim.

5. Di banyak negeri Nasrani diadakan perayaan pada siang hari, dilanjutkan begadang sambil berdansa, bercampur baur lelaki dan perempuan.

Beberapa versi kisah yang disebutkan seputar perayaan ini dan simbolnya, St. Valentine, bisa memberikan pencerahan kepada orang berakal. Terlebih lagi seorang muslim yang mentauhidkan Allah Subahanahu wa Ta’ala. Pemaparan di atas menjelaskan hakikat perayaan ini kepada kaum muslimin yang tidak tahu dan tertipu, kemudian ikut merayakannya. Mereka hakikatnya meniru umat Nasrani yang sesat, dan mengambil segala yang datang dari Barat, Nasrani, lagi atheis.

Renungan

Barangsiapa yang membaca kisah yang telah disebutkan seputar perayaan paganis ini, akan jelas baginya hal-hal berikut:

1. Asalnya adalah aqidah paganis (penyembahan berhala) kaum Romawi, untuk mengungkapkan rasa cinta kepada berhala yang mereka ibadahi selain Allah Subahanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang merayakannya, berarti dia merayakan momen pengagungan dan penyembahan berhala. Padahal Allah Subahanahu wa Ta’ala telah mengingatkan kita dari perbuatan syirik:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (Az-Zumar: 65-66)

Allah Subahanahu wa Ta’ala juga menyatakan melalui lisan ‘Isa ‘alaihissalam:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma`idah: 72)

Dan seorang muslim wajib berhati-hati dari syirik dan segala yang akan mengantarkan kepada syirik.

2. Awal mula perayaan ini di kalangan bangsa Romawi paganis terkait dengan kisah dan khurafat yang tidak bisa diterima akal sehat, apalagi akal seorang muslim yang beriman kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala dan para rasul-Nya.

Pada satu versi, disebutkan bahwa seekor serigala betina menyusui Romulus pendiri kota Roma, sehingga memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Ini menyelisihi aqidah seorang muslim, bahwa yang memberikan kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran hanyalah Allah Subahanahu wa Ta’ala, Dzat Maha Pencipta, bukan air susu serigala. Dalam versi lain, pada perayaan itu kaum Romawi paganis mempersembahkan qurban untuk berhala sesembahan mereka, dengan keyakinan bahwa berhala-berhala itu mampu mencegah terjadinya keburukan dari mereka dan mampu melindungi binatang gembalaan mereka dari serigala. Padahal, akal yang sehat mengetahui bahwa berhala tidaklah dapat menimpakan kemudaratan, tidak pula bisa memberikan suatu kemanfaatan.

Bagaimana mungkin seorang berakal mau ikut merayakan perayaan seperti ini? Terlebih lagi seorang muslim yang Allah Subahanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan agama yang sempurna dan aqidah yang lurus ini kepadanya.

3. Di antara syi’ar jelek perayaan ini adalah menyembelih anjing dan domba betina, lalu darahnya dilumurkan kepada dua orang pemuda, kemudian darah itu dicuci dengan susu, dst. Orang yang berfitrah lurus tentu akan menjauh dari hal yang seperti ini. Akal yang sehat pun tidak bisa menerimanya.

4. Keterkaitan St. Valentine dengan perayaan ini diperselisihkan, juga dalam hal sebab dan kisahnya. Bahkan, sebagian literatur meragukannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Sehingga pantas bagi kaum Nasrani untuk tidak mengakui perayaan paganis ini yang mereka tiru dari bangsa Romawi paganis. Terlebih lagi keterkaitan perayaan ini dengan salah satu santo (orang-orang suci dalam khazanah Nasrani, ed.) mereka, masih diragukan. Bila merayakannya teranggap sebagai aib bagi kaum Nasrani, yang telah mengganti-ganti agama mereka dan mengubah kitab mereka, tentu lebih tercela bila seorang muslim yang ikut merayakannya. Dan bila benar bahwa perayaan ini terkait dengan terbunuhnya St. Valentine karena mempertahankan agama Nasrani, maka apa hubungan kaum muslimin dengan St. Valentine?

5. Para pemuka Nasrani telah menentang perayaan ini karena timbulnya kerusakan akhlak pemuda dan pemudi akibat perayaan ini, maka dilaranglah perayaan ini di Italia, pusat Katholik. Lalu perayaan ini muncul kembali dan tersebar di Eropa. Dari sanalah menular ke negeri kaum muslimin. Bila pemuka Nasrani –pada masa mereka– mengingkari perayaan ini, maka wajib bagi para ulama kaum muslimin untuk menerangkan hakikatnya dan hukum merayakannya. Sebagaimana wajib bagi kaum muslimin yang awam untuk mengingkari dan tidak menerimanya, sekaligus mengingkari orang yang ikut merayakannya atau menularkannya kepada kaum muslimin.

Mengapa Kaum Muslimin Tidak Boleh Merayakannya?

Sebagian kaum muslimin yang ikut merayakannya mengatakan bahwa Islam juga mengajak kepada kecintaan dan kedamaian. Dan Hari Kasih Sayang adalah saat yang tepat untuk menyebarkan rasa cinta di antara kaum muslimin. Sehingga, apa yang menghalangi untuk merayakannya?

Jawaban terhadap pernyataan ini dari beberapa sisi:

1. Hari raya dalam Islam adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Hari raya merupakan salah satu syi’ar agama yang agung. Sedangkan dalam Islam, tidak ada hari raya kecuali hari Jum’at, Idul Fithri, dan Idul Adh-ha. Perkara ibadah harus ada dalilnya. Tidak bisa seseorang membuat hari raya sendiri, yang tidak disyariatkan oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdasarkan hal ini, perayaan Hari Kasih Sayang ataupun selainnya yang diada-adakan, adalah perbuatan mengada-adakan (bid’ah) dalam agama, menambahi syariat, dan bentuk koreksi terhadap Allah Subahanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah menetapkan syariat.

2. Perayaan Hari Kasih Sayang merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) bangsa Romawi paganis, juga menyerupai kaum Nasrani yang meniru mereka, padahal ini tidak termasuk (amalan) agama mereka.

Ketika seorang muslim dilarang menyerupai kaum Nasrani dalam hal yang memang termasuk agama mereka, maka bagaimana dengan hal-hal yang mereka ada-adakan dan mereka menirunya dari para penyembah berhala?

Seorang muslim dilarang menyerupai orang-orang kafir –baik penyembah berhala ataupun ahli kitab– baik dalam hal aqidah dan ibadah, maupun dalam adat yang menjadi kebiasaan, akhlak, dan perilaku mereka. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, 3/50, dan Abu Dawud, no. 5021)

Tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam perkara agama mereka di antaranya adalah Hari Kasih Sayang– lebih berbahaya daripada menyerupai mereka dalam hal pakaian, adat, atau perilaku. Karena agama mereka tidak lepas dari tiga hal: yang diada-adakan, atau yang telah diubah, atau yang telah dihapuskan hukumnya (dengan datangnya Islam). Sehingga, tidak ada sesuatupun dari agama mereka yang bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.

3. Tujuan perayaan Hari Kasih Sayang pada masa ini adalah menyebarkan kasih sayang di antara manusia seluruhnya, tanpa membedakan antara orang yang beriman dengan orang kafir. Hal ini menyelisihi agama Islam. Hak orang kafir yang harus ditunaikan kaum muslimin adalah bersikap adil dan tidak mendzaliminya. Dia juga berhak mendapatkan sikap baik –bila masih punya hubungan silaturahim– dengan syarat: tidak memerangi atau membantu memerangi kaum muslimin. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

لاَ يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Bersikap adil dan baik terhadap orang kafir tidaklah berkonsekuensi mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Allah Subahanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan untuk tidak berkasih sayang dengan orang kafir dalam firman-Nya:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Sikap tasyabbuh akan melahirkan sikap kasih sayang, cinta dan loyalitas di dalam batin. Sebagaimana kecintaan yang ada di batin akan melahirkan sikap menyerupai.” (Al-Iqtidha`, 1/490)

4. Kasih sayang yang dimaksud dalam perayaan ini semenjak dihidupkan oleh kaum Nasrani adalah cinta, rindu, dan kasmaran, di luar hubungan pernikahan. Buahnya, tersebarnya zina dan kekejian, yang karenanya pemuka agama Nasrani pada waktu itu menentang dan melarangnya.

Kebanyakan pemuda muslimin merayakannya karena menuruti syahwat, dan bukan karena keyakinan khurafat sebagaimana bangsa Romawi dan kaum Nasrani. Namun hal ini tetaplah tidak bisa menafikan adanya sikap tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam salah satu perkara agama mereka. Selain itu, seorang muslim tidak diperbolehkan menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, yang merupakan pintu menuju zina.

Sikap yang Seharusnya Ditempuh Seorang Muslim

1. Tidak ikut merayakannya, menyertai orang yang merayakannya, atau menghadirinya.

2. Tidak membantu/mendukung orang kafir dalam perayaan mereka, dengan memberikan hadiah, menyediakan peralatan untuk perayaan itu atau syi’ar-syi’arnya, atau meminjaminya.

3. Tidak membantu kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakannya. Bahkan ia wajib mengingkari mereka, karena kaum muslimin yang merayakan hari raya orang kafir adalah perbuatan mungkar yang harus diingkari.

Dari sini, kaum muslimin tidak boleh pula menjual bingkisan (pernak-pernik) bertema Hari Kasih Sayang, baik pakaian tertentu, mawar merah, kartu ucapan selamat, atau lainnya. Karena memperjualbelikannya termasuk membantu kemungkaran. Sebagaimana juga tidak boleh bagi orang yang diberi hadiah Hari Kasih Sayang untuk menerimanya. Karena, menerimanya mengandung makna persetujuan terhadap perayaan ini.

4. Tidak memberikan ucapan selamat Hari Kasih Sayang, karena hari itu bukanlah hari raya kaum muslimin. Dan bila seorang muslim diberi ucapan selamat Hari Kasih Sayang, maka dia tidak boleh membalasnya.

5. Menjelaskan hakikat perayaan ini dan hari-hari raya orang kafir yang semisalnya, kepada kaum muslimin yang tertipu dengannya.

(Diringkas dari makalah ‘Idul Hubb, Qishshatuhu, Sya’airuhu, Hukmuhu, karya Ibrahim bin Muhammad Al-Haqil)

1 Adalah upacara ritual kesuburan yang dipersembahkan kepada Lupercus (dewa kesuburan, dewa padang rumput, dan pelindung ternak) dan Faunus (dewa alam dan pemberi wahyu). Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I mengubah ritual tersebut menjadi perayaan purifikasi (penyucian diri). Dua tahun kemudian, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan, dari tanggal 15 menjadi 14 Februari. (red)

Jumat, 27 November 2009

0 Berbaik Sangkalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ya Allah lindungilah setiap langkah yang akan menjerat kami kedalam jurang yang hina, walau dengan jalan pahit yang harus kami tempuh,

karena kami yakin bahwa hidup didunia ini hanya sebentar dan sementara, masih ada kehidupan abadi yang akan kami hadapi nanti,

sahabat, hampir tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya menderita, atau selalu dalam keterpurukan, semuanya ingin berjalan baik dan sukses didunia maupun diakherat kelak


tetapi banyak kenyataan hidup yang kita tampuh ini adalah jalan terjal yang akrab dengan kerikil tajam dan menusuk kaki,

walau dalam alur dan cerita yang berbeda, tetapi hampir dapat dipastikan semuanya itu pernah kita rasakan,

kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, hanya saja kita selalu berusaha yang terbaik untuk meraih yang terbaik, hanya itu....

kadang kita terbentur dengan situasi dan kondisi yang sulit untuk dihindari, semua harus dijalani walau dalam gelap dan banyak jalan yang berliku,

berbaik sangkalah terhadap semua ketentuan Allah, jangan pernah kita menghakimi bahwa tuhan tidak adil dengan kehidupan kita,

karena kita tidak pernah tahu apa hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa diri kita ini,

pertahankanlah sikap berbaik sangka terhadap ketentuan Allah ini sekuat tenaga, karena walaupun kita berburuk sangka, semua itu tidak akan pernah dapat merubah ketentuanNYA

saya pernah bertanya pada diri sendiri disaat keterpurukan datang "kapan semua ini berakhir...??? sampai kapan saya harus menjalani hidup yang seperti ini ...??"

waktu itu tidak terpikir jalan keluar sedikitpun, tapi toh nyatanya sekarang sudah berubah, dan diganti dengan permasalahan baru yang jauh lebih berat,

yakinlah semua dipergilirkan, seperti siang dan malam,

jangan sampai karena situasi yang berat ini membuat hati kita lemah dan bahkan mempengaruhi akidah kita,

hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita, kita hanya menjalani proses dan berusaha memberikan yang terbaik dalam proses tersebut,

sahabat, semoga Allah membimbing hati kita agar selalu baik sangka kepada Allah, amiin


semoga bermanfaat

Jumat, 23 Oktober 2009

0 Berikut Beberapa Kiat Agar Kita Mudah Bertahajjud

MENJAGA MAKAN
Harus disadari bahwa siapapun yang bisa bertahajjud, berarti mendapat siraman rahmat, taufik dan hidayah dari Alloh. Tanpa pertolongan-Nya tidak mungkin bisa bangun malam untuk ruku’ dan sujud kepada Alloh. Kewajiban manusiawi anak adam adalah berusaha menjemput rahmat, taufik dan hidayah Alloh. Diantaranya dengan cara menjaga makan.

Berusahalah memenuhi lambung dengan makan dan minum secukupnya. Hindari makan dan minum yang berlebihan. Perut dipenuhi dengan makanan dan minuman di sepanjang siang hari dan apalagi sampai malam. Meskipun dengan makanan dan minuman yang halal sekalipun. Rosululloh SAW memberi tuntunan tentang cara makan. Perimbangan isi perut adalah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara (kosong). Itulah cara makan yang paling sehat. Dunia medispun membuktikan bahwa perut yang terlalu penuh memang tidak menyehatkan. Justru bisa menjadi sumber penyakit.

Dalam konteks ibadah, maka perut yang kenyang akan menyebabkan orang menjadi malas untuk beribadah. Jangankan untuk bertahajjud, untuk ibadah sholat wajib lima waktu, dimana kita dalam keadaan terjaga, pasti merasakan berat. Tabiat dasar manusia seperti ini. Bila pemenuhan kebutuhan jasmani terlalu dominan, maka kebutuhan ruhani dengan sendirinya akan terkalahkan. Benarlah apa yang disampaikan Hasan r.a. Ia berkata, “Barangsiapa diberi kekuatan oleh Alloh untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, maka ia tidak makan berlebihan. Dan barangsiapa yang mampu menjaga perutnya, maka ia akan mampu menjaga ketaatan kepada Alloh SWT.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang pertemuan Nabi Zakariya dengan iblis. Dari pertemuan itu Nabi Zakariya menjadi tahu, bahwa salah satu tipu daya iblis untuk menghalangi manusia dari bertahajjud adalah mendorong manusia agar makan dan minum sampai kenyang. Karena apabila perut kenyang dengan sendirinya akan malas untuk bangun malam.

Tsabit al Bannak r.a berkata, “Sesungguhnya iblis ( semoga laknat Alloh ditimpakan kepadanya) menampakkan diri kepada Yahya bin Zakariya dan pada dirinya terdapat gantungan”. Yahya berkata, “Apa gantungan ini?” Iblis menjawab, “Ini adalah syahwat yang telah kugantungkan pada diri setiap anak cucu adam”. Yahya berkata, “Apakah kamu berkenan memberitahukan kepadaku penangkalnya?” Iblis menjawab, “Ya, kamu merasakan kenyang di malam hari sehingga kamu merasa berat untuk melaksanakan sholat dan berzikir.”

Ada dialog menarik antara Muhammad bin Sirrin dengan orang yang mendatanginya. Orang itu bermaksud belajar kepada Muhammad bin Sirrin tentang kiat agar dimudahkan melaksanakan ibadah sholat tahajjud. Ketika orang itu bertemu dengan Muhammad bin Sirrin, ia berkata, “Ajarkan kepadaku ibadah dan sholat malam.” Ibnu Sirrin bertanya kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang dirimu, bagaimana kamu makan?” Ia menjawab, “Aku makan sampai merasa kenyang.” Ibnu Sirrin berkata, “Itu adalah cara makannya binatang.” Ibnu Sirrin bertanya kembali, “Bagaimana kamu minum.?” Orang itu menjawab, “Aku minum sampai merasa puas.” Ibnu Sirrin berkata, “Itu adalah minumnya binatang ternak.” Kemudian Muhammad Sirrin berkata kepada orang tersebut, “Pergilah kamu dan belajarlah (terlebih dahulu) tentang cara bagaimana makan dan minum. Kemudian datanglah kembali kesini untuk belajar tentang ibadah kepadaku.”

Tentang menjaga dari kenyang, ibadah dan akhlak diri, kita bisa merenungi ucapan Ibrahim bin Adham. Beliau berkata,” Barangsiapa menjaga perutnya, maka ia menjaga agamanya. Barangsiapa menjaga rasa lapar, maka ia akan memiliki akhlak yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Alloh itu jauh dari orang-orang yang perutnya lapar.”

MENJAGA KETAATAN DI SIANG HARI
Kemampuan untuk bangun malam, juga dipengaruhi akhlak diri di siang hari. Jika ingin dimudahkan bangun malam, maka disepanjang siang hari harus mampu menjaga akhlak diri. Hindari dari banyak bermaksiat kepada Alloh serta dari mendzalimi diri sendiri. Juga penting agar tidak mendzalimi orang lain. Meskipun hanya dengan sekedar gerak hati dan pikiran seperti prasangka, menggunjing berdusta dan sejenisnya.

Orang-orang yang menjaga akhlak di siang hari, berarti mengkondisikan diri untuk mudah bangun bertahajjud di malam hari. Seseorang bertanya kepada Hasan al Basri, “Saya ingin bangun malam, tapi sampai sekarang tidak bisa” Hasan al Basri berkata,” Taatlah kepada Tuhanmu pada siang hari, niscaya kamu dapat bangun pada malam hari.”

Dari penjelasan Hasan al Basri kita menjadi tahu, bahwa akhlak di siang hari menentukan akhlak kita di malam hari. Kalaupun kita tidak bisa sepenuhnya menjaga diri dari bermaksiat maka perbanyaklah istighfar kepada Alloh menjelang tidur. Sedangkan kedzaliman kepada sesama, inilah yang paling harus di jaga. Sebab catatan kesalahan kepada sesama (dosa), tidak bisa dihapus sebelum minta maaf kepada orang yang kita salahi.

JANGAN HABISKAN SELURUH ENERGI
Bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga bernilai ibadah di hadapan Alloh. Bahkan orang yang lelah setelah pulang bekerja, maka tidurnya merupakan ampunan bagi dirinya. Islam melarang keras bermalas-malasan. Sampai-sampai Rosululloh SAW berpesan agar kita memerangi rasa malas.

Sungguhpun begitu, jangan lupa dengan kalimat bijak ini bahwa sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik. Demikian pula dengan aktivitas kerja. Jika berlebihan berdampak tidak baik pula. Karena itu selama siang hari jangan sampai kita menguras seluruh energi yang kita miliki sedemikian rupa. Kemudian saat memasuki malam tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Jika demikian, maka bagaimana mungkin bisa bangun malam mendirikan sholat tahajjud?

Berhati-hatilah dari bekerja berlebihan di siang hari. Ingat pesan Rosululloh SAW. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Alloh sangat membenci orang yang bekerja terlalu berat, orang yang banyak makan, orang yang sering membuat kegaduhan di pasar, bangkai pada malam hari (tidur sepanjang malam), keledai disiang hari (bekerja tanpa tujuan ibadah), dan orang yang menguasai urusan dunia tetapi tidak mengenal (bodoh) urusan akhirat.” (HR. Ibnu Hibban dan al Baihaqi).

TIDUR SEBENTAR DI SIANG HARI
Sepertinya agak aneh jika ada seruan untuk tidur sebentar di siang hari. Bukankah siang hari merupakan saat dimana manusia harus produktif di dunia kerja. Pandangan seperti itu, rasanya mulai harus dikaji ulang. Beberapa perusahaan di Eropa justru mulai menyediakan ruangan khusus bagi karyawannya untuk melakukan tidur siang sebentar. Hasilnya adalah produktivitas karyawan rata-rata mengalami peningkatan cukup signifikan.

Sejumlah peneliti Amerika Serikat melakukan eksperimen dengan menempatkan beberapa sukarelawan di tempat yang tertutup selama beberapa hari sehingga mereka tidak mengenal siang dan malam. Pada akhir eksperimen tampak bahwa para sukarelawan itu memiliki kecenderungan untuk tidur pada dua masa yang utama. Pertama pada masa yang panjang, yaitu tidur pada malam hari. Kedua, pada masa yang singkat yaitu pada masa setelah tengah hari.

Para peneliti itupun bertanya keheranan, “Mengapa ada kecenderungan tidur siang yang singkat ini?” Mereka kemudian mencoba menggali manfaat tidur siang sebentar. Hasilnya adalah ternyata tidur siang sebentar sangat berguna. Yaitu menjadikan seseorang lebih bugar, lebih bersemangat dan lebih bergairah.

Para peneliti yang lain di Yunani setelah melakukan penelitian beberapa tahun tentang tidur siang sebentar, sampai pada kesimpulan, “Tidur 30 menit setelah dhuhur mengurangi penyumbatan pembuluh darah sampai 30 %.”
Para ahli merekomendasi tidur siang antara 30 90 menit. Jika kurang atau lebih dari waktu itu faedahnya berkurang.

Saudaraku, penemuan para peneliti itu tidak lain, selain dari membuktikan kebenaran sabda Rosulloh SAW. Beliau menganjurkan kepada ummatnya. Kata Beliau“ Tidurlah sebentar pada siang hari karena setan tidak melakukannya.” (HR. Abu Naim dalam tarikh Ashhaban). Mulai sekarang pikirkan untuk tidur siang sebentar agar lebih bugar saat bertahajjud di waktu malam.

KIAT RUHANIYAH
Sallamah Muhammad Abu al Kamal memberi beberapa kiat ruhaniyah agar mudah bangun malam:
1. Selalu meningkatkan keimanan
2. Membersihkan hati dari dengki
3. Selalu menanamkan rasa takut dalam hati akan panasnya api neraka
4. Selalu mengingat keutamaan sholat malam
5. Mengingat kenikmatan bermunajad kepada Alloh di keheningan malam
6. Membayangkan tidur di dalam kubur.
7. Tidak sering berangan-angan
8. Mengingat-ngingat akhirat, kematian dan kehidupan setelah kematian.

Wallohu a’lam bisshowab.

Hamba ALLAH...

Selasa, 20 Oktober 2009

0 Cemas...

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ya Allah yang telah memberikan kepada kami sebuah hati, terimakasih ya Robb, karena dengan hati ini kami bisa lebih merasakan semua karunia yang Engkau ciptakan,

hal yang sangat manusiawi apabila seseorang merasakan cemas, mungkin karena menghawtirkan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dalam hidupnya,

yang jadi masalah adalah ketika rasa cemas itu terlalu berlebihan dan sudah mengganggu ketenangan jiwa

biasanya hal ini akan sangat mengganggu aktifitas, karena apabila hati ini sedang berbalut dengan rasa cemas, maka kondisi kitapun tidak akan stabil

kuncinya adalah seberapa tinggi keyakinan dan ketergantungan kita terhadapap ketentuan Allah, atau berbaik sangka terhadap apa yang akan Allah perbuat untuk kita,

karena apapun yang terjadi dengan diri ini, semuanya Allah yang menentukan

apabila kita mempunyai keyakinan yang kuat bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini adalah yang terbaik menurut Allah bukan menurut ukuran manusia,

insya Allah hal ini biasanya mampu mengurangi rasa cemas yang ada di hati

tapi sekali lagi yang harus di ingatkan "sesuatu yang baik menurut Allah"
bukan menurut ukuran manusia

yang terkadang datangnya ke kita itu bisa dalam bentuk apa saja, bahkan mungkin dalam bentuk musibah, kita tidak akan pernah tahu itu..

semoga dengan selalu berbaik sangka terhadap ketentuan Allah, kita bisa lebih mengendalikan hati ini, insya Allah.

semoga bermanfaat
 

Powered by Mas NiCko