Jumat, 27 November 2009

1 Kisah Sebuah Jam
















Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetik paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?”

“Ha?”, kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Baiklah, bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?” Tanya si pembuat jam.


“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?” tanya si pembuat jam.

“Dalam satu jam harus berdetik 3.600 kali? Banyak sekali itu” jam masih ragu dengan kemampuan dirinya.

"Oke, bagaimana kalau 60 kali saja dalam satu menit ?” tanya si pembuat jam.

“60 kali dalam satu menit ?ehhm.... bisa ga ya...” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam dengan penuh kesabaran kemudian berkata lagi kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?”

“Oh, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh semangat.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetik tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetik sebanyak 31.104.000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.

Begitupun dengan ibadah. Kita ambil contoh sederhana.. Kalau saja kita istiqomah menjalankan ibadah puasa senin kamis , dalam satu minggu kita telah menyisipkan dua hari untuk bekal kita di akhirat kelak. Kita kalikan 11 bulan, hasilnya 88 hari kita telah berpuasa. Angka yg cukup fantastis pabila dilakukan sekaligus…

Bagaimana?
Semoga Allah menguatkan kita..........

0 Berbaik Sangkalah

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ya Allah lindungilah setiap langkah yang akan menjerat kami kedalam jurang yang hina, walau dengan jalan pahit yang harus kami tempuh,

karena kami yakin bahwa hidup didunia ini hanya sebentar dan sementara, masih ada kehidupan abadi yang akan kami hadapi nanti,

sahabat, hampir tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya menderita, atau selalu dalam keterpurukan, semuanya ingin berjalan baik dan sukses didunia maupun diakherat kelak


tetapi banyak kenyataan hidup yang kita tampuh ini adalah jalan terjal yang akrab dengan kerikil tajam dan menusuk kaki,

walau dalam alur dan cerita yang berbeda, tetapi hampir dapat dipastikan semuanya itu pernah kita rasakan,

kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, hanya saja kita selalu berusaha yang terbaik untuk meraih yang terbaik, hanya itu....

kadang kita terbentur dengan situasi dan kondisi yang sulit untuk dihindari, semua harus dijalani walau dalam gelap dan banyak jalan yang berliku,

berbaik sangkalah terhadap semua ketentuan Allah, jangan pernah kita menghakimi bahwa tuhan tidak adil dengan kehidupan kita,

karena kita tidak pernah tahu apa hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa diri kita ini,

pertahankanlah sikap berbaik sangka terhadap ketentuan Allah ini sekuat tenaga, karena walaupun kita berburuk sangka, semua itu tidak akan pernah dapat merubah ketentuanNYA

saya pernah bertanya pada diri sendiri disaat keterpurukan datang "kapan semua ini berakhir...??? sampai kapan saya harus menjalani hidup yang seperti ini ...??"

waktu itu tidak terpikir jalan keluar sedikitpun, tapi toh nyatanya sekarang sudah berubah, dan diganti dengan permasalahan baru yang jauh lebih berat,

yakinlah semua dipergilirkan, seperti siang dan malam,

jangan sampai karena situasi yang berat ini membuat hati kita lemah dan bahkan mempengaruhi akidah kita,

hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita, kita hanya menjalani proses dan berusaha memberikan yang terbaik dalam proses tersebut,

sahabat, semoga Allah membimbing hati kita agar selalu baik sangka kepada Allah, amiin


semoga bermanfaat

Kamis, 26 November 2009

0 Semangkuk Bakmi Panas

Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan

, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata, “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” “Ya, tetapi, aku tidak membawa uang.” jawab Ana dengan malu-malu “Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu.” jawab si pemilik kedai, “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”. Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa, nona?” tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa. Aku hanya terharu.” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!, tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri.” katanya kepada pemilik kedai. Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.” Ana terhenyak mendengar hal tersebut.

“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.” Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah: “Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya. Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:
BAGAIMANA PUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA, TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU. APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
HAI ANAK-ANAK, TAATI DAN HORMATILAH ORANG TUAMU DALAM KESEHARIANMU, KARENA ITULAH HAL YANG TERINDAH DI MATA TUHAN


Wassalam....
 

Powered by Mas NiCko