Sabtu, 31 Oktober 2009

0 Al Qur'an sangat akrab dengan sain dan teknologi

Bismillaahirrohmaanirroohiim


Al Qur'an sangat akrab dengan sain dan teknologi , orang yang mempunyai pengetahuan IPTEK luas akan terperangah jika mau membaca Qur'an dengan menggunakan akal dan hati nuraninya.Namun sayang banyak juga orang yang menguasai IPTEK yang menutup hati nuraninya sehingga tidak paham dengan Qur'an walaupun kebenaran ayat Qur'an yang berkaitan dengan IPTEK sudah jelas.

Salah satu yang menarik saya adalah firman Allah dalam surat Al Hadiid ayat 25"..dan kami ciptakan besi padanya ada kekuatan yang dahsyat...". Bagi orang yang hidup dizaman Rasulullah kekuatan besi itu mungkin hanya digunakan sebagai pedang, tombak, tameng ataupun panah. Mereka tidak paham jika besi itu bisa mengapung dilaut jadi kapal yang besar, atau terbang diangkasa sebagai pesawat terbang.

Sekarang IPTEK membuktikan bahwa didalam besi itu memang ada kekuatan yang dahsyat. Dengan kekuatan medan magnitnya besi membangkitkan tenaga listrik diseluruh dunia dengan daya jutaan megawat. Motor listrik yg memproduksi berbagai produk kebutuhan manusia di pabrik pabrik digerakan dengan tenaga listrik itu. Malam hari seluruh tempat dan bangunan didunia ini diterangi oleh lampu yang menggunakan energi listrik. Nyaris dunia modern akan lumpuh tanpa energi listrik yang sebagian besarnya diproduksi oleh medan magnit dari besi yang dahsyat itu. Inilah salah satu contoh kebenaraan ayat Qur'an yang mengatakan bahwa pada besi itu ada kekuatan yang dahsyat.Kekuatan yang dahsyat itu belum bisa dipahami oleh orang dizaman Rasululllah.

Orang yang menguasai IPTEK dan mau membaca dan membuka hatinya untuk memahami Qur'an akan banyak menemui ayat Qur'an seperti pembahasan ayat tentang besi diatas.
IPTEK sangat membantu kita untuk memahami dan mengagumi kebenaran Al-Qur'an.

Disini sya akan menambahkan sesuatu yang tidak banyak diketahui oleh pembaca.

Inti Bumi, 4000 mil dibawah permukaan terbentuk dari Besi dan Nikel. Ukurannya kira-kira 2-3 kali ukuran Bulan. Inti ini dikelilingi cairan panas Besi yang berputar mengelilinginya, sehingga tercipta "geodinamo" yang dahsyat. Terbentuklah medan elektromagnet Bumi. Namun yang luar biasa, ia juga menciptakan SABUK VAN ALLEN - perisai energi yang sangat kuat dan sangat tebal hingga ketinggian 6000 km diatas Bumi - melindungi penduduk Bumi dari serangan badai kosmis, meteorit dan solar flares atau "ledakkan energi Matahari."

Tahukah sobat "ledakan energi Matahari" bila sampai ke Bumi, sama saja kita dihujani ribuan bom atom dalam waktu bersamaan. Akibatnya, diperkirakan setengah dari penduduk Bumi musnah seketika. Belum kalau kita berbicara badai kosmis, yang tiap hari bisa terjadi. Bisa dibayangkan?

Dengan demikian fungsi SABUK VAN ALLEN adalah melindungi kita semua penduduk Bumi, hingga kita bisa hidup aman dan nyaman. Ini semua karena ada Besi dan Nikel sebagai Inti Bumi. Itu sebabnya, salah satu alasan, mengapa BESI dijadikan salah satu judul surat dalam al Qur'an - karena vital dalam konteks membangun peradaban manusia di Bumi. Alasan lain yang lebih umum, untuk menunjukkan kebesaran Allah swt dan kebenaran al Qur'an.

Allah swt telah menciptakan atmosfir Bumi dan SABUK VAN ALLEN untuk kepentingan hidup kita semua. Jika tidak ada keduanya, bisa dipastikan tidak akan ada kehidupan di Bumi.

Nah, sekarang kita tahu mengapa al Hadiid dipilih oleh Allah swt sebagai salah satu judul surat dalam Al Qur'an.


catatan dari seorang sahabat

Sabtu, 24 Oktober 2009

0 Mimpi Hasan Bashri

SUATU ketika antara Hasan Bashri dan Ibnu Sirin muncul perasaan sentimen. Keduanya tak mau saling menyapa. Setiap kali mendengar orang lain menyambut nama Ibnu Sirin, Hasan Bashri merasataksuka. "Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku," ujarnya.

Suatu malam Hasan Bashri bermimpi, seolah-olah sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu. Tiba-tiba ia ingat bahwa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai, pandai menafsirkan mimpi.

Merasa malu dan gengsi bertemu sendiri, ia meminta tolong seorang teman dekatnya untuk menemui Ibnu Sirin. "Temui Ibnu Sirin, dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalami," pesannya.



Teman dekat Hasan Bashri itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata, "Bilang pada orang yang mengalami mimpi iniJangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani suruh iadatang sendiri kemari."

Mendengar laporan yang disampaikan temannya ini, Hasan Bashri kesal. la bingung, dan merasatertantang. Setelah berpikirsejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin. la tidak peduli dengan rasa malu atau gengsinya.

"Antarkan aku ke sana," katanya. Begitu melihat kedatangan Hasan Bashri, Ibnu Sirin menyambutnyadengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, masing- masing lalu mengambil tempat duduk yang agak berjauhan.

"Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja! Aku bingung memikirkan dan menafsirkan mimpiku," kata Hasan Bashri. Lalu, ia menuturkan sekilas tentang mimpinya.



"Jangan bingung," kata Ibnu Sirin. "Telanjang dalam mimpimu itu adalah Ketelanjangan dunia. Artinya Anda sama sekali tidak bergantung padanya karena Anda memang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Anda telah melihat dengan jelas . keadaan yang sebenarnya. Sedangkan sebatang tongkat yang Anda buat itu adalah lambang hikmah yang Anda katakan, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang."

Sesaat Hasan Bashri terkesima. la kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli penafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya.

"Tetapi bagaimana Anda tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu?"tanya Hasan Bashri. "Ketika temanmu menceritakan mimpi tersebut kepadaku, aku berpikir menurutku hanya engkau yangpantas mengalaminya," jawab lbnuSirin.


Sumber : Wafyat AI-A'yan, AI-Shafadi

Jumat, 23 Oktober 2009

0 Berikut Beberapa Kiat Agar Kita Mudah Bertahajjud

MENJAGA MAKAN
Harus disadari bahwa siapapun yang bisa bertahajjud, berarti mendapat siraman rahmat, taufik dan hidayah dari Alloh. Tanpa pertolongan-Nya tidak mungkin bisa bangun malam untuk ruku’ dan sujud kepada Alloh. Kewajiban manusiawi anak adam adalah berusaha menjemput rahmat, taufik dan hidayah Alloh. Diantaranya dengan cara menjaga makan.

Berusahalah memenuhi lambung dengan makan dan minum secukupnya. Hindari makan dan minum yang berlebihan. Perut dipenuhi dengan makanan dan minuman di sepanjang siang hari dan apalagi sampai malam. Meskipun dengan makanan dan minuman yang halal sekalipun. Rosululloh SAW memberi tuntunan tentang cara makan. Perimbangan isi perut adalah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara (kosong). Itulah cara makan yang paling sehat. Dunia medispun membuktikan bahwa perut yang terlalu penuh memang tidak menyehatkan. Justru bisa menjadi sumber penyakit.

Dalam konteks ibadah, maka perut yang kenyang akan menyebabkan orang menjadi malas untuk beribadah. Jangankan untuk bertahajjud, untuk ibadah sholat wajib lima waktu, dimana kita dalam keadaan terjaga, pasti merasakan berat. Tabiat dasar manusia seperti ini. Bila pemenuhan kebutuhan jasmani terlalu dominan, maka kebutuhan ruhani dengan sendirinya akan terkalahkan. Benarlah apa yang disampaikan Hasan r.a. Ia berkata, “Barangsiapa diberi kekuatan oleh Alloh untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, maka ia tidak makan berlebihan. Dan barangsiapa yang mampu menjaga perutnya, maka ia akan mampu menjaga ketaatan kepada Alloh SWT.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang pertemuan Nabi Zakariya dengan iblis. Dari pertemuan itu Nabi Zakariya menjadi tahu, bahwa salah satu tipu daya iblis untuk menghalangi manusia dari bertahajjud adalah mendorong manusia agar makan dan minum sampai kenyang. Karena apabila perut kenyang dengan sendirinya akan malas untuk bangun malam.

Tsabit al Bannak r.a berkata, “Sesungguhnya iblis ( semoga laknat Alloh ditimpakan kepadanya) menampakkan diri kepada Yahya bin Zakariya dan pada dirinya terdapat gantungan”. Yahya berkata, “Apa gantungan ini?” Iblis menjawab, “Ini adalah syahwat yang telah kugantungkan pada diri setiap anak cucu adam”. Yahya berkata, “Apakah kamu berkenan memberitahukan kepadaku penangkalnya?” Iblis menjawab, “Ya, kamu merasakan kenyang di malam hari sehingga kamu merasa berat untuk melaksanakan sholat dan berzikir.”

Ada dialog menarik antara Muhammad bin Sirrin dengan orang yang mendatanginya. Orang itu bermaksud belajar kepada Muhammad bin Sirrin tentang kiat agar dimudahkan melaksanakan ibadah sholat tahajjud. Ketika orang itu bertemu dengan Muhammad bin Sirrin, ia berkata, “Ajarkan kepadaku ibadah dan sholat malam.” Ibnu Sirrin bertanya kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang dirimu, bagaimana kamu makan?” Ia menjawab, “Aku makan sampai merasa kenyang.” Ibnu Sirrin berkata, “Itu adalah cara makannya binatang.” Ibnu Sirrin bertanya kembali, “Bagaimana kamu minum.?” Orang itu menjawab, “Aku minum sampai merasa puas.” Ibnu Sirrin berkata, “Itu adalah minumnya binatang ternak.” Kemudian Muhammad Sirrin berkata kepada orang tersebut, “Pergilah kamu dan belajarlah (terlebih dahulu) tentang cara bagaimana makan dan minum. Kemudian datanglah kembali kesini untuk belajar tentang ibadah kepadaku.”

Tentang menjaga dari kenyang, ibadah dan akhlak diri, kita bisa merenungi ucapan Ibrahim bin Adham. Beliau berkata,” Barangsiapa menjaga perutnya, maka ia menjaga agamanya. Barangsiapa menjaga rasa lapar, maka ia akan memiliki akhlak yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Alloh itu jauh dari orang-orang yang perutnya lapar.”

MENJAGA KETAATAN DI SIANG HARI
Kemampuan untuk bangun malam, juga dipengaruhi akhlak diri di siang hari. Jika ingin dimudahkan bangun malam, maka disepanjang siang hari harus mampu menjaga akhlak diri. Hindari dari banyak bermaksiat kepada Alloh serta dari mendzalimi diri sendiri. Juga penting agar tidak mendzalimi orang lain. Meskipun hanya dengan sekedar gerak hati dan pikiran seperti prasangka, menggunjing berdusta dan sejenisnya.

Orang-orang yang menjaga akhlak di siang hari, berarti mengkondisikan diri untuk mudah bangun bertahajjud di malam hari. Seseorang bertanya kepada Hasan al Basri, “Saya ingin bangun malam, tapi sampai sekarang tidak bisa” Hasan al Basri berkata,” Taatlah kepada Tuhanmu pada siang hari, niscaya kamu dapat bangun pada malam hari.”

Dari penjelasan Hasan al Basri kita menjadi tahu, bahwa akhlak di siang hari menentukan akhlak kita di malam hari. Kalaupun kita tidak bisa sepenuhnya menjaga diri dari bermaksiat maka perbanyaklah istighfar kepada Alloh menjelang tidur. Sedangkan kedzaliman kepada sesama, inilah yang paling harus di jaga. Sebab catatan kesalahan kepada sesama (dosa), tidak bisa dihapus sebelum minta maaf kepada orang yang kita salahi.

JANGAN HABISKAN SELURUH ENERGI
Bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga bernilai ibadah di hadapan Alloh. Bahkan orang yang lelah setelah pulang bekerja, maka tidurnya merupakan ampunan bagi dirinya. Islam melarang keras bermalas-malasan. Sampai-sampai Rosululloh SAW berpesan agar kita memerangi rasa malas.

Sungguhpun begitu, jangan lupa dengan kalimat bijak ini bahwa sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik. Demikian pula dengan aktivitas kerja. Jika berlebihan berdampak tidak baik pula. Karena itu selama siang hari jangan sampai kita menguras seluruh energi yang kita miliki sedemikian rupa. Kemudian saat memasuki malam tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Jika demikian, maka bagaimana mungkin bisa bangun malam mendirikan sholat tahajjud?

Berhati-hatilah dari bekerja berlebihan di siang hari. Ingat pesan Rosululloh SAW. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Alloh sangat membenci orang yang bekerja terlalu berat, orang yang banyak makan, orang yang sering membuat kegaduhan di pasar, bangkai pada malam hari (tidur sepanjang malam), keledai disiang hari (bekerja tanpa tujuan ibadah), dan orang yang menguasai urusan dunia tetapi tidak mengenal (bodoh) urusan akhirat.” (HR. Ibnu Hibban dan al Baihaqi).

TIDUR SEBENTAR DI SIANG HARI
Sepertinya agak aneh jika ada seruan untuk tidur sebentar di siang hari. Bukankah siang hari merupakan saat dimana manusia harus produktif di dunia kerja. Pandangan seperti itu, rasanya mulai harus dikaji ulang. Beberapa perusahaan di Eropa justru mulai menyediakan ruangan khusus bagi karyawannya untuk melakukan tidur siang sebentar. Hasilnya adalah produktivitas karyawan rata-rata mengalami peningkatan cukup signifikan.

Sejumlah peneliti Amerika Serikat melakukan eksperimen dengan menempatkan beberapa sukarelawan di tempat yang tertutup selama beberapa hari sehingga mereka tidak mengenal siang dan malam. Pada akhir eksperimen tampak bahwa para sukarelawan itu memiliki kecenderungan untuk tidur pada dua masa yang utama. Pertama pada masa yang panjang, yaitu tidur pada malam hari. Kedua, pada masa yang singkat yaitu pada masa setelah tengah hari.

Para peneliti itupun bertanya keheranan, “Mengapa ada kecenderungan tidur siang yang singkat ini?” Mereka kemudian mencoba menggali manfaat tidur siang sebentar. Hasilnya adalah ternyata tidur siang sebentar sangat berguna. Yaitu menjadikan seseorang lebih bugar, lebih bersemangat dan lebih bergairah.

Para peneliti yang lain di Yunani setelah melakukan penelitian beberapa tahun tentang tidur siang sebentar, sampai pada kesimpulan, “Tidur 30 menit setelah dhuhur mengurangi penyumbatan pembuluh darah sampai 30 %.”
Para ahli merekomendasi tidur siang antara 30 90 menit. Jika kurang atau lebih dari waktu itu faedahnya berkurang.

Saudaraku, penemuan para peneliti itu tidak lain, selain dari membuktikan kebenaran sabda Rosulloh SAW. Beliau menganjurkan kepada ummatnya. Kata Beliau“ Tidurlah sebentar pada siang hari karena setan tidak melakukannya.” (HR. Abu Naim dalam tarikh Ashhaban). Mulai sekarang pikirkan untuk tidur siang sebentar agar lebih bugar saat bertahajjud di waktu malam.

KIAT RUHANIYAH
Sallamah Muhammad Abu al Kamal memberi beberapa kiat ruhaniyah agar mudah bangun malam:
1. Selalu meningkatkan keimanan
2. Membersihkan hati dari dengki
3. Selalu menanamkan rasa takut dalam hati akan panasnya api neraka
4. Selalu mengingat keutamaan sholat malam
5. Mengingat kenikmatan bermunajad kepada Alloh di keheningan malam
6. Membayangkan tidur di dalam kubur.
7. Tidak sering berangan-angan
8. Mengingat-ngingat akhirat, kematian dan kehidupan setelah kematian.

Wallohu a’lam bisshowab.

Hamba ALLAH...

Selasa, 20 Oktober 2009

0 Cemas...

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ya Allah yang telah memberikan kepada kami sebuah hati, terimakasih ya Robb, karena dengan hati ini kami bisa lebih merasakan semua karunia yang Engkau ciptakan,

hal yang sangat manusiawi apabila seseorang merasakan cemas, mungkin karena menghawtirkan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dalam hidupnya,

yang jadi masalah adalah ketika rasa cemas itu terlalu berlebihan dan sudah mengganggu ketenangan jiwa

biasanya hal ini akan sangat mengganggu aktifitas, karena apabila hati ini sedang berbalut dengan rasa cemas, maka kondisi kitapun tidak akan stabil

kuncinya adalah seberapa tinggi keyakinan dan ketergantungan kita terhadapap ketentuan Allah, atau berbaik sangka terhadap apa yang akan Allah perbuat untuk kita,

karena apapun yang terjadi dengan diri ini, semuanya Allah yang menentukan

apabila kita mempunyai keyakinan yang kuat bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini adalah yang terbaik menurut Allah bukan menurut ukuran manusia,

insya Allah hal ini biasanya mampu mengurangi rasa cemas yang ada di hati

tapi sekali lagi yang harus di ingatkan "sesuatu yang baik menurut Allah"
bukan menurut ukuran manusia

yang terkadang datangnya ke kita itu bisa dalam bentuk apa saja, bahkan mungkin dalam bentuk musibah, kita tidak akan pernah tahu itu..

semoga dengan selalu berbaik sangka terhadap ketentuan Allah, kita bisa lebih mengendalikan hati ini, insya Allah.

semoga bermanfaat

Minggu, 18 Oktober 2009

0 Cinta......abadi

Detik-detik Rasulullah SAW menghadapi sakaratul maut. Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu,
Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan Sunnahku.

Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup.

Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"

kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman

kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku", peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

0 Rasul dan Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila,
dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan".

Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja".

"Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a.

"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?".

Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
 

Powered by Mas NiCko